
Blog Detail
Re-Definisi Ekosistem RS: Mengapa Inovasi 'Hospital at Home' Adalah Jawaban Strategis Menghadapi Era KRIS

Oleh: Tim Redaksi Inspiry Indonesia Konsultan | Hospital Market Insight
Sambil menikmati kopi pagi di sela-sela padatnya agenda pameran World Health Expo (WHX) 2026 di Dubai Trade Center, pandangan kami tertuju pada sebuah headline news resmi pameran, WHX Insights: "Seamless integration into predictive, decentralised healthcare". Sebuah ulasan wawancara eksklusif bersama Mark Dagher, konsultan senior dari Frost & Sullivan, yang memaparkan fakta telanjang bahwa model pengiriman layanan kesehatan global sedang direkayasa ulang secara struktural.
Ada satu kutipan dari Mark yang membuat kami terdiam sejenak. Ia menegaskan bahwa ada pergeseran nyata dari perawatan berbasis rumah sakit tradisional menuju jaringan rawat jalan, virtual, dan model berbasis rumah ("home-based models").
Ini bukan sekadar tren teknologi. Ini adalah tsunami disrupsi.
Di Indonesia, kita para eksekutif C-Level, direktur, dan owner rumah sakit sering kali masih terjebak pada metrik lama. Kita sibuk mempercantik lobi, menambah kapasitas tempat tidur, dan menghitung Bed Occupancy Rate (BOR) sebagai indikator absolut kesuksesan. Padahal, jika kita merefleksikan apa yang dipamerkan di WHX Dubai minggu lalu—mulai dari integrasi masif yang dilakukan Dubai Health hingga adopsi kecerdasan buatan dalam alur kerja klinis—masa depan rumah sakit justru terletak di luar gedung rumah sakit itu sendiri.
Inilah momentum kebangkitan Hospital at home.
Konsep ini sebenarnya bukan hal yang sama sekali asing bagi para C-level rumah sakit, pemikir visioner di tanah air. Mari kita tarik benang merahnya dengan pemikiran dr. Supriyanto, Sp.B, Direktur Utama RSCM. Dalam disertasi doktoralnya, beliau telah memancang tonggak paradigma baru melalui konsep "Rumah Sakit Tanpa Dinding". Beliau menyadari betul bahwa institusi sebesar RSCM tidak bisa hanya pasif menunggu rujukan datang. Kompetensi spesialisitik, keandalan diagnostik, dan asuhan keperawatan harus bisa "diekspor" melampaui tembok fisik bangunan melalui teknologi dan jejaring. Jika rumah sakit rujukan nasional tertinggi kita saja sudah menggeser kompasnya menuju desentralisasi pelayanan, menjadi sebuah ironi jika rumah sakit swasta masih membatasi visinya hanya sebatas perluasan lahan parkir dan penambahan bangsal.

Let.jend.(Ret.) Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto bersama Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Dr. M. Syahril, Sp. P, MPH dan tim Inspiry Indonesia Konsultan berbagi insights & momen di sela-sela event WHX Dubai 2026 (Dubai Trade Center, 10/2/2026)
Namun, menggeser pelayanan ke rumah pasien bukanlah perkara sederhana mengirim perawat membawa stetoskop. Di sinilah value proposition baru tercipta melalui orkestrasi teknologi.
Model asuhan terdesentralisasi ini membutuhkan tulang punggung infrastruktur Homecare-IoT yang presisi. Bayangkan seorang pasien pascaoperasi jantung tidak perlu memperpanjang masa rawat inapnya. Ia bisa pulang ke rumah hunianya sendiri dengan perangkat wearable imaging dan sensor biometrik yang terpasang di tubuhnya. Data vital pasien tersebut mengalir secara real-time dan terintegrasi mulus ke dalam Hospital Information System (HIS). Ketika perawat homecare melakukan kunjungan, mereka tidak lagi meraba-raba; mereka membawa perangkat in vitro diagnostic (IVD) portabel (point-of-care testing) yang hasilnya saat itu juga terekam ke dalam Laboratory Information Systems (LIS) rumah sakit.
Semua pertukaran data klinis ini—dari citra radiologi portabel yang dikirim via sistem PACS berbasis cloud, hingga penyesuaian resep obat—bermuara di satu dasbor utuh pada Electronic Medical Records (EMR) yang bisa diakses dokter penanggung jawab dari gawainya di mana saja.
Terdengar seperti fiksi ilmiah? Tidak. Ini adalah realitas operasional yang sedang kita bicarakan di ruang-ruang diskusi WHX Dubai 2026.
Lalu, bagaimana kita meletakkan inovasi global ini di atas lanskap ekonomi dan regulasi kesehatan Indonesia saat ini?
Kita harus mendengarkan pandangan tajam dari pakar ekonomi kesehatan UGM, Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD. Dalam berbagai forum strategis, beliau secara konsisten mengingatkan tentang ancaman inefisiensi jika rumah sakit hanya bertumpu pada model bisnis padat modal (capital intensive) dalam era JKN. Membangun ruang rawat inap baru itu mahal, depresiasi asetnya tinggi, dan margin dari tarif INA-CBGs semakin ketat.
Kondisi ini semakin mendesak ketika kita dihadapkan pada implementasi Perpres No. 59 Tahun 2024 tentang Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Banyak manajemen RS yang cemas kehilangan revenue stream dari kamar VIP. Padahal, di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi kesiapan rumah sakit Swasta mengambil peluang besar PP59/2024 KRIS iDRG KRBC.
Alih-alih meratapi hilangnya kelas perawatan eksklusif di dalam gedung, rumah sakit swasta yang cerdik akan menciptakan kelas VIP baru di ruang tamu pasien mereka sendiri. Layanan Hospital at Home Premium yang ditanggung oleh asuransi kesehatan swasta (Coordination of Benefit atau out-of-pocket) adalah ruang biru (blue ocean) yang sesungguhnya. Anda membebaskan kapasitas tempat tidur fisik untuk pasien JKN berstandar KRIS yang membutuhkan intervensi akut, sementara pasien recovery dan kronis Anda rawat di rumah mereka dengan margin profitabilitas yang lebih sehat karena overhead cost bangunan ditekan habis.
Tentu, ambisi digital ini harus menapak pada bumi regulasi. dr. M. Syahril Mansyur, Sp.P, MPH, former Spokesperson of the Ministry of Health dan kini sebagai The Executive Member of Indonesia Health Council (Konsil Kesehatan Indonesia), terus menggaungkan, memvibrasi pentingnya cetak biru transformasi digital.
Platform SatuSehat adalah fondasi awalnya. Menariknya, pemerintah saat ini sedang dalam fase krusial dalam membentuk regulasi adaptif rumah sakit. Regulasi memang selalu berlari di belakang inovasi teknologi, namun arahnya sudah jelas: melegitimasi layanan jarak jauh sebagai bagian tak terpisahkan dari continuum of care.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan, seperti yang diperingatkan oleh artikel WHX Insights, "technology by itself doesn't create value". Membeli alat canggih itu mudah jika ada anggaran. Yang sulit adalah merancang strategi holistik kesehatan yang memastikan teknologi tersebut benar-benar memperbaiki clinical outcomes dan patient experience.

Prof. Dr. Laksono Trisnantor, MsC, PhD (Senior Executive Advisor) dan Dr. M. Syahril, Sp. P, MPH (Senior Hospital Management Advisor) beraudiensi di Booth Mount Sinai International Hospital dan Iranian Hospital in Dubai, event WHX 2026 (Dubai Trade Center, 12/2/2026)
Jika Anda membongkar batas fisik rumah sakit, Anda juga mengekspos institusi Anda pada risiko baru. Bagaimana jika koneksi data IoT terputus di tengah pemantauan kritis? Bagaimana memastikan validasi data alat diagnostik portabel akurat? Di sinilah manajemen risiko rumah sakit menjadi panglima. Eksekutif RS tidak bisa lagi melihat manajemen risiko hanya sebagai tumpukan kertas untuk lulus survei akreditasi. Dibutuhkan sebuah strategi manajemen risiko terintegrasi untuk akreditasi dan compliance rumah sakit Indonesia yang secara spesifik memitigasi risiko klinis, legal, dan keamanan siber (cybersecurity) dari pelayanan terdesentralisasi ini.
Pada akhirnya, bergeser dari model reaktif (menunggu orang sakit datang ke gedung kita) menjadi proaktif dan prediktif (merawat mereka di ekosistem kesehariannya) adalah sebuah keniscayaan. Keputusan berinvestasi pada teknologi tidak bisa lagi sekadar coba-coba, melainkan harus berbasis pada ROI dan bukti efisiensi yang terukur.
Pertanyaannya kini kembali ke meja rapat direksi Anda: Apakah arsitektur bisnis dan kesiapan mental tim medis Anda sudah cukup lentur untuk beroperasi di luar tembok nyaman rumah sakit?
Mari Berdiskusi: Menyaksikan langsung pergeseran peta jalan teknologi medis global di WHX Dubai membuat kami menyadari satu hal: kita berpacu dengan waktu. Kami ingin melempar pertanyaan kepada rekan-rekan owner RS, C-Level, dan pengambil kebijakan: Hambatan terbesar apa yang paling Anda khawatirkan dalam mengadopsi model Hospital at Home ini di institusi Anda? Apakah murni soal kejelasan regulasi billing dari asuransi, atau lebih kepada resistensi internal dari para klinisi?
Silakan bagikan perspektif berharga Anda di kolom komentar. Untuk rekan-rekan eksekutif yang ingin membedah lebih dalam bagaimana memformulasikan value proposition baru RS Anda di era transisi KRIS ini, let's connect dan mari kita atur waktu untuk diskusi strategis secara langsung.
Stay ahead of the curve.
