
Blog Detail
CMEF & MEDCONGRESS 2026 Shanghai Seri 2: Ilusi Bed Occupancy Rate : Mengapa Ekspansi kamar pasien bisa merugikan Rumah Sakit ?

Oleh: Tim Strategic INSPIRY Consulting bersama Prof Laksono Trisnantoro, Msc, PhD dan dr M. Syahril Mansyur, Sp.P.,MPH
Berpengalaman di bidang industri kesehatan Indonesia, adanya satu hal penting yang selalu dibicarakan saat rapat dengan Direksi RS yang ternyata belum tentu menjadi sebuah solusi bagi manajemen RS, Yaitu Naikkan Bed Occupancy Rate (BOR) dengan membangun gedung baru, dan menambah tempat tidur. Padahal, langkah tersebut justru menjadi salah satu hal yang mengakibatkan kerugian sebuah Rumah Sakit.
Meningkatkan volume pasien RS dengan melakukan ekspansi di era pasca pandemi justru menjadi sebuah jebakan strategis, terutama di RS wilayah Indonesia yang dimana Pendapatan RS yang mayoritas di cover BPJS, dan beragam layanan premium diluar BPJS seperti Asuransi dengan berbagai penawaran berdasarkan tingkatannya. Selain itu, kebanyakan pasien yang memilih untuk tidak rawat inap apabila penyakitnya tidak parah dan masih bisa dilakukan rawat dengan alasan menghidari risiko infeksi nosokomial. Pasien masa kini membutuhkan rawat jalan dengan penanganan yang baik dan berkualitas tanpa harus menjalani rawat inap.
Dalam arti kata lain, Apabila manajemen RS mengorbankan CapEx untuk upgrade demi mengejar angka Bed Occupation Rate bukan menjadi langkah yang tepat, melainkan Biaya Operasional melambung tinggi, sedangkan jumlah pasien rawat inap tidak mencapai ekspetasi yang justru membuat RS mengalami kerugian.
Sudah saatnya Direktur RS merubah strateginya dengan berinovasi dengan menggeser fokusnya sesuai dengan kebutuhan pasien masa kini, Seperti Rawat Inap beralih ke Program Homecare atau Hospital at Home dan lain sebagainya.


Episentrum Omni-Channel: Membedah Inovasi CMEF Shanghai 2026
Tim Inspiry berkesempatan untuk menghadiri Pameran Alat Kesehatan terbesar di Asia Timur, China International Medical Equipment Fair (CMEF) pada April 2026 lalu di National Exhibition Convention Center, Shanghai. Di pameran tersebut, Para expertise dari Inspiry Hospital Business Consultant melihat wujud nyata infrastruktur Hospital at Home yang bisa di implementasikan di pasar RS Indonesia yang dirangkum sebagai berikut :
Dalam teknologi berbasis Medical Imaging, Perusahaan Alat Kesehatan terkemuka di Tiongkok berinovasi dengan meluncurkan teknologi TE Air Wireless Handheld Ultrasound, dimana pada perangkat tersebut pasien tidak perlu ke ruang radiologi. Dengan teknologi tersebut, Perawat bisa melakukan pemindaian rongga dada atau abdomen pasien bedridden, sementara dokter spesialis menginterpretasi citra resolusi tinggi tersebut dari dashboard rumah sakit secara real-time. Selain itu, Pemeriksaan dengan perangkat ini bisa dilakukan dirumah tanpa harus datang ke RS maupun ruang Radiologi.
Selain itu, terdapat teknologi berbasis In-Vitro Diagnostics (IVD) yang menerapkan Point of Care Testing (POCT) yang bisa dilakukan langsung dekat dengan pasien tanpa harus dilakukan di Laboratorium RS yang mumpuni. Salah satu perusahaan Alat Kesehatan di Tiongkok telah meluncurkan product berbasis POCT ini yang memungkinkan analisis biomarker kritis, seperti penanda jantung dan inflamasi langsung di ruang tamu pasien dengan akurasi presisi, terintegrasi mulus ke Electronic Medical Record (EMR) Anda via cloud.
Beralih ke sektor Surgery, sebuah perusahaan alat medis meluncurkan robot bedah laparoskopi canggih untuk operasi minimal invasif. Produk tersebut relevan dengan strategi Hospital at Home karena presisi robotik ini memangkas trauma jaringan secara akurat dan stabil, juga tidak perlu melakukan rawat inap. Dengan teknologi berbasis surgery ini lah yang mampu mendukung Hospital at Home.
Sektor berikutnya adalah sektor Fisioterapi dimana perangkat yang digunakan di Rumah Sakit sudah mulai diganti dengan Wearable Robotics. Suatu perusahaan robotik di Tiongkok sudah meluncurkan Alat Kesehatan berbasis robot memungkinkan pasien stroke melakukan latihan neuro-rehabilitasi di rumah. Perangkat tersebut tidak hanya membantu untuk bergerak, tetapi mampu mengirimkan data dan progress euromuskuler pasien langsung ke layar tablet fisioterapis.
Selain itu adanya layanan pre layanan premium Stem Cell dan regenerative medicine. Dimana Perusahaan Bioteknologi asal Tiongkok mendemonstrasikan sistem smart cryo-transport terpadu saat CMEF 2026 berlangsung. Layanan tersebut bisa di implementasikan di Rumah sakit yang sudah menerapkan layanan VIP Homecare dengan cold-chain monitoring absolut yang nantinya akan menciptakan layanan secara ekslusif tanpa memakai ruang rawat inap.


Melakukan ekspansi bukan berarti menambah frekuensi, tetapi bisa juga dengan mengakuisisi kapabilitas jangkauan. Transisi menuju model bisnis berbasis Omni-channel yang membutuhkan kalibrasi strategis yang presisi agar arus kas RS tidak menjadi penyebab RS merugi di kemudian hari.
Ingin tau lebih lanjut tentang eksekusi Transformasi RS tanpa mengganggu stabilitas operasional harian RS? Bedah Solusinya disini
Hospital Business by INSPIRY Indonesia
Your Trusted Partner in Healthcare Excellence.
🌐 Discover us: www.inspiryconsultant.com
📲 Direct Inquiry: +62 877 6777 1778
💌 International Inquiries, let’s talk: international@inspiry.asia
Or reach out through our social media:
LinkedIn: PT. Inspiry Indonesia Konsultan
Instagram: Inspiry.Indonesia
Facebook: PT. Inspiry Indonesia Konsultan
TikTok: Inspiry.Indonesia
#HealthcareInnovation #MedicalTechnology #HospitalManagement #HealthTech #FutureOfHealthcare #HospitalAtHome #OmniChannelHealthcare #BeyondBPJS #Hospital BusinessConsulting #InspiryIndonesia #CMEF2026
